https://jurnal.umpwr.ac.id/bahtera/issue/feed Jurnal Bahtera: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra, dan Budaya 2026-07-13T09:59:35+07:00 Suryo Daru Santoso bahtera@umpwr.ac.id Open Journal Systems <pre>Abbreviation :bahtera<br>DOI Prefix :10.37729/bahtera<br>ISSN :2356-0576(p) 2579-8006 (e)<br>Type of review :Single Blind<br>Frequency :Twice a year (March and September)<br>Editor in Chief :<a href="https://scholar.google.com/citations?user=jg6JIhQAAAAJ&amp;hl=id&amp;oi=ao" target="_blank" rel="noopener">Dr. Umi Faizah, M.Pd.</a><br>Managing Editor :<a href="https://scholar.google.com/citations?user=vGS7Z8cAAAAJ&amp;hl=id&amp;oi=ao" target="_blank" rel="noopener">Suryo Daru Santoso, M.Pd.</a>, <a href="https://scholar.google.com/citations?user=pZytDskAAAAJ&amp;hl=id&amp;oi=ao">Nurul Setyorini, M.Pd.</a><br>Indexing :Click&nbsp;here<br>Focus &amp; Scope :Click&nbsp;here</pre> https://jurnal.umpwr.ac.id/bahtera/article/view/7828 KESANTUNAN BAHASA DALAM INTERAKSI SOSIAL PEDAGANG DI PESISIR PANTAI JATIMALANG PURWOREJO 2026-07-10T09:00:08+07:00 Eko Santosa ekosantosa@umpwr.ac.id Yuli Widiyono widiyono@umpwr.ac.id Safira Zain safirazain14@gmail.com <p>Pergeseran nilai di era globalisasi memicu penurunan tingkat kesantunan berbahasa, khususnya pada penggunaan bahasa daerah yang makin tergeser oleh ragam yang dinilai lebih praktis. Fenomena ini tampak di masyarakat yang kian mereduksi fungsi bahasa ibu sebagai identitas sekaligus parameter kesantunan sosial. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kekhasan penggunaan bahasa Jawa dialek Purworejo, sekaligus menganalisis nilai kesantunan pada interaksi sosial para pedagang di pesisir pantai Jatimalang. Melalui metode kualitatif deskriptif, data dikumpulkan dari pengamatan tuturan alami subjek dalam situasi komunikasi tidak resmi. Hasil analisis mengungkap keberadaan kekhasan fonologis pada pelafalan vokal (/a/, /i/, /u/) dan konsonan hambat letup (/k/), serta munculnya bunyi aspirat pada konsonan /w/, /y/, dan /l/. Kajian ini juga menemukan variasi leksikon spesifik penanda dialek lokal, seperti penggunaan kata rika, enyong, dan buthung. Dari sudut pandang pragmatik, interaksi antarpedagang terbukti mematuhi prinsip kesantunan melalui penerapan maksim kesepakatan, kerendahan hati, hingga maksim simpati guna mempertahankan keharmonisan komunal. Sebagai simpulan, praktik berbahasa ini membuktikan lestarinya kearifan lokal yang sangat relevan untuk dikembangkan menjadi materi ajar <em>unggah-ungguh</em> (tata krama) bahasa Jawa di institusi pendidikan.&nbsp;</p> 2026-07-10T08:45:11+07:00 Copyright (c) 2026 Jurnal Bahtera: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra, dan Budaya https://jurnal.umpwr.ac.id/bahtera/article/view/7711 EKSPRESI VERBAL NALURI EROS TOKOH NOVEL KEMARAU DI SEDANAU KARYA ASRORUDDIN ZOECHNI SERTA RELEVANSI PEMBELAJARANNYA 2026-07-13T04:28:48+07:00 Annisatun Azizah Maahayyu Dianti annisatun0130@gmail.com Bagiya bagiya@umpwr.ac.id Umi Faizah umifaizah84@gmail.com <p>Novel <em>Kemarau di Sedanau</em> secara unik mengeksplorasi kondisi psikologis tokoh melalui penggunaan bahasa dalam komunikasi anatartokoh, namun penggunaan bentuk komunikasi tersebut masih jarang dieksplorasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendekripsikan: (1) bentuk komunikasi verbal naluri <em>eros</em> tokoh dalam novel <em>Kemarau di Sedanau</em> karya Asroruddin Zoechni; (2) relevansi penggunaan bentuk komunikasi verbal naluri <em>eros</em> dengan pembelajaran sastra di kelas XII SMA. Data penelitian ini adalah bentuk komunikasi verbal yang mencakup perbendaharaan kata-kata (<em>vocabulary</em>), kecepatan (<em>racing</em>), intonasi suara, humor, singkat dan jelas, dan <em>timming</em>. Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif kualitatif dengan sumber data novel <em>Kemarau di Sedanau </em>karya Asroruddin Zoechni. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik sadap dan catat, dengan peneliti bertindak sebagai instrumen penelitian. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis isi. Data disajikan dengan menggunakan teknik penyajian informal. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan data: (1) bentuk komunikasi verbal naluri <em>eros</em> berupa perbendaharaan kata-kata (<em>vocabulary</em>), kecepatan (<em>racing</em>), intonasi suara, humor, singkat dan jelas, dan <em>timming</em>; (2) relevansi penggunaan bentuk komunikasi verbal naluri <em>eros</em> tokoh dalam novel <em>Kemarau di Sedanau</em> karya Asroruddin Zoechni &nbsp;dengan pembelajaran sastra di kelas XII SMA terletak pada kesesuaian data penelitian dengan Alur Tujuan Pembelajaran 3. 9 menganalisis isi dan kebahasaan novel</p> <p><strong>Kata kunci: </strong>verbal, <em>eros</em>, novel</p> 2026-07-10T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Jurnal Bahtera: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra, dan Budaya https://jurnal.umpwr.ac.id/bahtera/article/view/7903 BAHTERA REPRESENTASI BUDAYA PATRIARKI DALAM NOVEL SANG MAHA SENTANA KARYA FILIANA NUR: KAJIAN SASTRA FEMINIS ALLAN G. JOHNSON 2026-07-13T09:59:35+07:00 Heti Setyaningsih Heti Setyaningsih hsetyaningsih027@gmail.com <p>Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis representasi budaya patriarki dalam novel Sang Maha Sentana karya Filiana Nur dengan menggunakan kerangka kajian sastra feminis Allan G. Johnson. Sistem patriarki dalam novel tersebut tergambar melalui struktur kekuasaan laki-laki sebagai pemegang otoritas utama, baik dalam ranah domestik keluarga Aptodarmo maupun sosial masyarakat Jawa kolonial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan kritik sastra feminis. Sumber data primer adalah novel Sang Maha Sentana (2022) karya Filiana Nur, sedangkan sumber data sekunder meliputi jurnal ilmiah terindeks SINTA dan Scopus serta buku akademik relevan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka dengan teknik analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel Sang Maha Sentana merepresentasikan tiga aspek utama patriarki menurut Johnson: (1) dominasi laki-laki (male dominated) yang terwujud melalui kuasa tokoh Kangmas Dewa dan figur ayah dalam menentukan nasib tokoh-tokoh perempuan; (2) identifikasi laki-laki (male identified) sebagai standar norma sosial yang menempatkan perempuan termasuk Lembah dan Saraswati pada posisi subordinat berdasarkan status kasta dan moralitas yang dikonstruksi laki-laki; dan (3) keterpusatan pada laki-laki (male centered) yang mendefinisikan eksistensi perempuan secara relasional dan membatasi otonomi mereka. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa novel Sang Maha Sentana secara konsisten merepresentasikan sistem patriarki sebagai struktur hegemonik yang mengekang tokoh perempuan, sekaligus menyiratkan kesadaran kritis pengarang terhadap ketidakadilan gender.</p> <p><strong>Kata kunci: </strong>patriarki; sastra feminis; novel; Allan G. Johnson; dominasi laki-laki</p> 2026-07-13T09:59:30+07:00 Copyright (c) 2026 Jurnal Bahtera: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra, dan Budaya