Subjective Well-Being Guru Sekolah Menengah Pertama (SMP): Peran Kebersyukuran dan Resiliensi
Abstract
Guru menghadapi tantangan profesi yang semakin kompleks, mulai dari beban administrasi hingga kesejahteraan finansial yang belum memadai, yang berisiko menurunkan kesejahteraan subjektif (subjective well-being/SWB) mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran kekuatan psikologis internal, yaitu kebersyukuran dan resiliensi, terhadap SWB guru. Menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional, penelitian ini melibatkan 163 guru SMP di Daerah Istimewa Yogyakarta yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala SWB, skala kebersyukuran, dan skala resiliensi, yang kemudian dianalisis dengan teknik regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebersyukuran dan resiliensi secara simultan berperan signifikan terhadap SWB guru sebesar 53,6% (R=0,732; F=92,391; p<0,001). Secara parsial, kebersyukuran memberikan sumbangan efektif sebesar 33,5% (β=0,507; p<0,001), sedangkan resiliensi berkontribusi sebesar 20,1% (β =0,351; p<0,001). Keduanya memiliki peran positif, yang berarti semakin tinggi tingkat kebersyukuran dan resiliensi, semakin tinggi pula kesejahteraan subjektif yang dirasakan guru. Kesimpulannya, kekuatan psikologis internal merupakan faktor krusial untuk menjaga stabilitas mental pendidik di tengah tekanan beban kerja. Sekolah disarankan untuk mengintegrasikan program psikologi positif guna memperkuat kapasitas afektif tenaga pendidik demi keberlanjutan kualitas pendidikan.



