Surya Beton : Jurnal Ilmu Teknik Sipil https://jurnal.umpwr.ac.id/suryabeton <pre>Title :Surya Beton: Jurnal Ilmu Teknik Sipil<br>Abbreviation :suryabeton<br>DOI Prefix :10.37729/suryabeton<br>ISSN :<a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/1348798889">2302-5166</a>(p), <a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/1615804015">2776-1606</a>(e)<br>Type of review :Single Blind<br>Frequency :Twice a year (Marc and September)<br>Editor in Chief :Eko Riyanto, S.T., M.T.<br>Managing Editor :Nurmansyah Alami, S.T., M.T.<br>Indexing :<a href="http://jurnal.umpwr.ac.id/index._php/suryabeton/indexing" target="_blank" rel="noopener">Click&nbsp;here</a><br>Focus &amp; Scope :<a href="http://jurnal.umpwr.ac.id/index._php/suryabeton/scopes" target="_blank" rel="noopener">Click here</a></pre> Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Purworejo en-US Surya Beton : Jurnal Ilmu Teknik Sipil 2302-5166 Model Sumur Resapan untuk Mengatasi Banjir di Alun-Alun Purworejo https://jurnal.umpwr.ac.id/suryabeton/article/view/7166 <p>Pertumbuhan penduduk dan pesatnya pembangunan di kawasan perkotaan Purworejo telah memicu perubahan fungsi tata guna lahan, terutama menjadi area perkantoran dan permukiman. Perubahan tersebut menyebabkan berkurangnya kemampuan lahan dalam meresapkan air hujan, sehingga limpasan permukaan meningkat dan memicu terjadinya genangan, khususnya di area sekitar alun-alun Purworejo. Kondisi ini diperparah oleh kapasitas saluran drainase yang tidak mampu menampung debit banjir rancangan, sehingga aktivitas masyarakat, baik pejalan kaki maupun pengguna kendaraan bermotor, menjadi terganggu. Penelitian ini bertujuan untuk mengurangi dampak genangan melalui penerapan teknologi drainase berwawasan lingkungan berupa sumur resapan sebagai upaya reduksi limpasan sekaligus pengisian kembali air tanah (artificial recharge). Hasil analisis menunjukkan bahwa di bagian luar alun-alun, intensitas hujan kala ulang 2 tahun dengan waktu konsentrasi 4 jam sebesar 20,33 mm/jam menghasilkan kelebihan debit 10,07 m³/jam. Sumur resapan berdiameter 0,8 m dan kedalaman 3 m mampu menampung 1,26 m³/dtk per sumur, sehingga diperlukan 8 unit sumur resapan. Sementara itu, di bagian dalam alun-alun, intensitas hujan kala ulang 2 tahun dengan waktu konsentrasi 5,4 jam sebesar 16,65 mm/jam menghasilkan kelebihan debit 15,81 m³/jam. Dengan kapasitas sumur resapan sebesar 0,42 m³/dtk per sumur, dibutuhkan 12 unit sumur resapan. Secara keseluruhan, total 20 sumur resapan direkomendasikan untuk ditempatkan pada wilayah tangkapan air yang tidak mampu ditampung oleh sistem drainase eksisting.</p> Muhamad Taufik Copyright (c) 2025 Muhamad Taufik https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/ 2025-10-30 2025-10-30 9 2 102 111 Analisis Kerentanan Rumah Tinggal terhadap Gempa Bumi Menggunakan Aplikasi AceBS https://jurnal.umpwr.ac.id/suryabeton/article/view/7369 <p>Indonesia merupakan negara yang rawan terhadap bencana gempa bumi karena berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama. Salah satu daerah yang memiliki potensi ancaman gempa adalah Desa Wunut, Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo. Pada wilayah tersebut masih banyak yang membangun rumah tinggal sederhana 1 lantai, tetapi belum banyak yang membangun rumah dengan menerapkan struktur rumah tahan gempa. eval__uasi ini diharapkan masyarakat mempunyai gambaran atau pandangan mengenai tingkat kerentanan bangunan dan dapat meningkatkan kualitas perencanaan pembangunan rumah tinggal yang lebih tangguh terhadap gempa. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa tingkat persentase kerentanan pada rumah tinggal sederhana di Desa Wunut terhadap ancaman gempa bumi. Menganalisa identifikasi karakteristik fisik bangunan yang mempengaruhi tingkat kerentanan terhadap gempa, seperti jenis material, struktur bangunan, dan teknik konstruksi suatu bangunan. Untuk mengetahui tingkat persentase kerentanan bangunan dan faktor-faktor yang mempengaruhi kerentanan bangunan menggunakan Aplikasi ACeBS dengan melakukan wawancara kepada tiap responden pemilik bangunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar rumah tinggal di Desa Wunut berada pada kategori kerentanan sedang hingga tinggi. Faktor dominan yang mempengaruhi tingkat kerentanan bangunan meliputi kondisi fondasi, tidak adanya struktur utama seperti kolom dan balok, kualitas sambungan, serta penggunaan material yang tidak sesuai standar bangunan aman gempa. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi masyarakat dan pihak terkait dalam meningkatkan kesadaran serta perencanaan bangunan yang lebih aman terhadap gempa bumi.</p> Bara Wisnu Prasetiyo Nurmansyah Alami Agung Nusantoro Copyright (c) 2025 Bara Wisnu Prasetiyo, Nurmansyah Alami, Agung Nusantoro https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2025-10-30 2025-10-30 9 2 112 121 Kajian Penambahan Matos Soil Stabilizer Terhadap Pasir Sungai Berlumpur Untuk Meningkatkan Kinerja Kuat Tekan Mortar Menggunakan Pasir Kalikotes https://jurnal.umpwr.ac.id/suryabeton/article/view/7172 <p>Sungai Kalikotes adalah salah satu dari sekian banyak sungai yang kandungan lumpur dalam pasir melebihi 5% yang menjadi syarat pembuatan mortar. Matos <em>soil stabilizer </em>dipilih sebagai upaya melakukan inovasi dalam pembuatan mortar menggunakan pasir sungai berlumpur, karena pada saat ini penggunaan Matos <em>soil stabilizer </em>hanya digunakan sebagai bahan untuk memadatkan dan menstabilkan tanah. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah: (1) mengetahui kandungan lumpur Sungai Kalikotes Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo, (2) mengetahui pengaruh penambahan Matos <em>soil stabilizer </em>terhadap kuat tekan mortar yang menggunakan pasir sungai berlumpur dari Sungai Kalikotes, (3) mengetahui kadar optimal Matos <em>soil stabilizer </em>yang harus ditambahkan untuk menghasilkan kuat tekan mortar yang baik pada umur 7, 14 dan 28 hari. Penelitian menggunakan metode eksperimental. Benda uji kubus berukuran 5x5x5 cm dengan menggunakan pasir sungai yang mengandung lumpur lebih dari 5%. Matos <em>soil stabilizer </em>ditambahkan dengan variasi 0%, 0% (dicuci), 2%, 4%, 6%, 8% dan 10% dari berat semen dengan total benda uji mortar sebanyak 105 buah.&nbsp; Perbandingan pasir semen yang digunakan adalah 1:3. Curing yang dipakai dengan cara didiamkan dalam suhu ruangan. Pengujian dilakukan pada umur 7, 14, dan 28 hari. Hasil pengujian kandungan lumpur dalam pasir Kalikotes sebesar 7,77% menunjukkan bahwa pasir Kalikotes belum memenuhi syarat sebagai agregat halus di mana jumlah kandungan lumpur yang disyaratkan &lt; 5,00%. Matos <em>soil stabilizer </em>berpengaruh terhadap peningkatan nilai kuat tekan mortar yang menggunakan pasir sungai berlumpur dari Kalikotes, penambahan kandungan Matos <em>soil stabilizer </em>dalam jumlah 6% dapat meningkatkan nilai kuat tekan mortar, namun jika terlalu banyak akan mengakibatkan nilai kuat tekannya menurun. Kadar optimum Matos <em>soil stabilizer </em>yang ditambahkan untuk menghasilkan kuat tekan yang baik pada umur 7,14 dan 28 hari adalah 6%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umur 7 hari nilai kuat tekan mortar tertinggi dihasilkan oleh variasi Matos <em>soil stabilizer </em>6% dengan nilai 4,39 MPa dengan persentase kenaikan 43,93 %. Umur 14 hari nilai kuat tekan mortar tertinggi dihasilkan variasi Matos <em>soil stabilizer </em>6% dengan nilai 5,38 MPa, dengan persentase kenaikan 70,79 %. Umur 28 hari nilai kuat tekan mortar tertinggi dihasilkan variasi Matos soil stabilizer 6% dengan nilai 6,11 MPa dengan persentase kenaikan 59,53 % dari kuat tekan mortar pasir berlumpur tanpa tambahan Matos soil stabilizer.</p> Ferry Setiawan Agung Nusantoro Eksi Widyananto Copyright (c) 2025 Ferry Setiawan, Agung Nusantoro, Eksi Widyananto https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2025-10-30 2025-10-30 9 2 122 131 Analisis Kinerja Jaringan Pipa Distribusi Penyediaan Air Minum Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) Desa Bleber Kecamatan Bener https://jurnal.umpwr.ac.id/suryabeton/article/view/7370 <p>PAMSIMAS Desa Bleber merupakan program penyediaan air minum yang bertujuan untuk meningkatkan akses air minum bagi masyarakat. PAMSIMAS Desa Bleber memiliki total 103 Sambungan Rumah (SR) di dua dusun yaitu Dusun Krajan dan Dusun Banjaran. Sistem perpipaan merupakan bagian terpenting dalam pendistribusian air minum. Pendistribusian air minum seringkali mengalami kendala dan tekanan air kurang merata karena kerusakan pada pipa maupun sambungan pipa yang kurang tepat. Tujuan dari penelitian ini adalah meningkatkan dan memperbaiki kinerja jaringan pipa distribusi air minum PAMSIMAS Desa Bleber untuk memenuhi kebutuhan air pelanggan secara merata. Metode penelitian ini adalah kuantitatif untuk menganalisis sistem distribusi air bersih. Penelitan membahas tentang analisis hidrolis menggunakan <em>Epanet 2.2</em>. Parameter yang dianalisis dan dieval_uasi adalah <em>pressure, velocity,</em> dan <em>headloss.</em> Penggunaan program <em>Epanet 2.2</em> dapat mensimulasikan pendistribusian air bersih secara merata melalui sistem perpipaan yang telah ada. Pengolahan data menggunakan satuan volume LPS <em>(Liter Per Second)</em> dengan persamaan yang digunakan adalah <em>Hazen-Williams</em>. Hasil simulasi menggunakan <em>Epanet 2.2</em> terdapat total 37 <em>junction/node</em>. Nilai <em>pressure</em> menunjukkan sebanyak 11 <em>junction</em> (29,73%) berada di bawah standar dan 26 <em>junction</em> (70,27%) telah memenuhi standar nilai 1 – 10 atm. <em>Pressure</em> tertinggi terjadi pada n32 sebesar 3,96 atm dan terendah terjadi pada n26 sebesar 0,19 atm. Nilai <em>velocity </em>dari total 37 pipa menunjukkan sebanyak 26 pipa (70,27%) berada di bawah standar dan 11 pipa (29,73%) sudah memenuhi standar nilai 0,3 – 3 m/s. <em>Velocity</em> tertinggi terjadi pada p2 sebesar 0,56 m/s dan terendah terjadi pada p34 sebesar 0,01 m/s. Nilai <em>headloss</em> menunjukkan hanya terdapat 1 pipa (2,70%) dari total 37 pipa yang belum memenuhi standar dan 36 pipa (97,30%) telah memenuhi standar nilai 0 – 10 m/km. <em>Headloss </em>tertinggi terjadi pada p18 sebesar 11,53 m/km dan terendah terjadi pada p34 sebesar 0,01 m/km. Keseluruhan hasil eval_uasi <em>pressure,</em> <em>velocity, </em>dan <em>headloss</em> telah memenuhi standar Permen PU No. 18 Tahun 2007 dengan persentase 100%.</p> Alvina Dwi Rahayu Agung Setiawan Muhamad Taufik Copyright (c) 2025 Alvina Dwi Rahayu, Agung Setiawan, Muhamad Taufik https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2025-10-30 2025-10-30 9 2 132 139 Analisis Kesiapsiagaan Masyarakat terhadap Bencana Tanah Longsor (Studi Kasus: Desa Cepedak, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo) https://jurnal.umpwr.ac.id/suryabeton/article/view/7371 <p style="margin: 0in; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"><span lang="EN-US" style="font-size: 11.0pt;">Kesiapsiagaan merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta langkah yang tepat guna dan berdaya guna. Bencana tanah longsor menjadi salah satu ancaman serius di Indonesia, termasuk Kabupaten Purworejo. Desa Cepedak di Kecamatan Bruno merupakan wilayah yang rawan longsor. Berdasarkan data BPBD Purworejo, sejak 1 Juli 2022 hingga 6 November 2023, tercatat empat kejadian longsor di dusun Gondosuli, Munggangsari, Beran, dan Sipucung. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kesiapsiagaan masyarakat serta hubungan tingkat pendidikan dengan kesiapsiagaan menghadapi longsor. Metode penelitian menggunakan analisis kuantitatif untuk mengetahui tingkat kesiapsiagaan, serta analisis korelasi untuk melihat hubungan tingkat pendidikan. Populasi penelitian adalah masyarakat Desa Cepedak, dengan instrumen kuesioner sebagai alat utama. Jumlah sampel ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan teknik <em>Simple Random Sampling</em>. Data diolah melalui uji validitas, reliabilitas, dan korelasi menggunakan aplikasi SPSS 24.0, serta skoring dengan Microsoft Excel untuk menentukan kategori kesiapsiagaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Desa Cepedak termasuk dalam kategori “Siap” dengan skor rata-rata 105,31. Analisis korelasi menghasilkan nilai Pearson Correlation (r) = 0,182, yang termasuk kategori “Sangat Rendah”. Hal ini menunjukkan adanya hubungan antara tingkat pendidikan dengan kesiapsiagaan, meskipun kekuatannya lemah. Dengan demikian, semakin tinggi pendidikan seseorang, kecenderungan kesiapsiagaannya terhadap bencana meningkat, namun peningkatannya tidak terlalu signifikan.</span></p> Muhammad Fathurrohman Nurmansyah Alami Eko Riyanto Copyright (c) 2025 Muhammad Fathurrohman, Nurmansyah Alami, Eko Riyanto https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/ 2025-10-30 2025-10-30 9 2 140 148